![]() |
Ilustrasi Nelayan Menjerit |
Ibrahim, seorang pengamat yang telah melakukan observasi sejak tahun 2015, menegaskan bahwa nelayan di kepulauan Selayar hampir tidak pernah benar-benar merasakan manfaat dari subsidi bahan bakar.
"Selama hampir satu dekade saya mengamati, subsidi solar seperti tidak pernah ada bagi nelayan di wilayah kepulauan. Mereka selalu membeli dengan harga yang jauh lebih mahal," ujar Ibrahim yang akrab disapa Baim. Kamis 13 Maret 2025.
Kondisi tersebut sangat memberatkan nelayan kecil yang bergantung pada bahan bakar untuk melaut. Dengan harga solar yang tinggi, biaya operasional mereka meningkat drastis, mengurangi keuntungan serta daya saing mereka dalam industri perikanan.
Salah seorang nelayan di Kepulauan Selayar mengungkapkan harapannya agar dapat menikmati bahan bakar bersubsidi sebagaimana yang telah ditetapkan pemerintah.
"Kami jauh dari kata merdeka karena biaya yang harus kami keluarkan jauh lebih besar dibanding orang-orang yang berada di kota. Akses kami sudah sulit, malah semakin dipersulit dengan harga BBM yang harus kami beli hampir dua kali lipat," keluhnya.
Hingga saat ini, pihak berwenang belum memberikan solusi konkret terhadap persoalan tersebut. Nelayan berharap ada pengawasan lebih ketat terhadap distribusi bahan bakar subsidi agar dapat benar-benar dinikmati oleh mereka yang berhak.***